Kewajiban Muslimah dalam Keluarganya --- Dalam Islam, peran domestik kaum istri memiliki kedudukan yang sangat mulia. Sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anak mereka, seorang muslimah harus dapat menempatkan diri dengan sebaik-baiknya. Baik dalam mengurus anak dan baik dalam melayani keluarga.
Karena tugas-tugas mulia itulah seorang Ibu dan Istri diberikan penghargaan dari Rasulullah SAW. Bahwa Ibulah yang pertama kita hormati sebelum ayah. Namun musuh-musuh Islam terus berusaha meruntuhkan sendi dasar rumah tangga ini dengan menggalang berbagai opini menyesatkan. "Pemberdayaan perempuan", "Kesetaraan gender", "kungkungan budaya patriarkhi" adalah sebagian propaganda yang tiada henti dijejalkan di benak wanita-wanita Islam.
Islam, oleh musuh-musuhnya, dituding sebagai ajaran yang tidak sensitif gender. Posisi wanita dalam Islam, menurut mereka, selalu termarginalkan atau terpinggirkan dalam lingkungan yang didominasi dan dikuasai laki-laki.
Permasalahan yang sering "diserang" kaum feminis dan aktivis perempuan anti Islam adalah peran istri/ibu dalam mengurusi tugas-tugas kerumahtanggaan. Oleh mereka, peran ibu yang hanya mengurusi tugas-tugas domestik hanya akan mencipktakan ketidakberdayaan sekaligus ketergantungan istri terhadap suaminya.
Juga dikesankan bahwa wanita yang hanya tinggal dirumah adalah penangguran dan menyia-nyiakan setengah dari potensi masyarakat. Propaganda ini didukung oleh opini negatif yang berkembang di masyarakat di mana wanita selama ini tak lebih dari sekedar "konco wingking", wanita tak lepas dari "dapur, kasur, dan sumur", "masak, macak, manak", dan sebagainya. Oleh karena itu , agar wanita bisa "maju", para wanita harus direposisi dalam ruang publik yang seluas-luasnya.
Gerakan ini gencar dilancarkan musuh-musuh Islam karena mereka sangat paham sebagaimana merusak Islam dengan menjadikan wanita muslimah sebagai sasaran bidik. Dengan semakin jauhnya kaum wanita dari rumah, mereka berharap pintu-pintu kerusakan akan semakin terbuka lebar. Lebih jauh, jika wanitanya telah rusak, maka tatanan masyarakat Islam akan rusak pula.
Arti wanita dalam Keluarga
Keberadaan seorang wanita sebagai istri dan ibu dalam keluarga memiliki arti yang sangat penting, bahkan bisa dikatakan dia merupakan satu tiang yang menegakkan kehidupan keluarga dan termasuk pemeran utama dalam mencetak "orang-orang besar". Sehingga tepat sekali bila dikatakan: "Di balik setiap orang besar ada seorang wanita yang mengasuh dan mendidiknya."
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahumullah menyatakan: "Perbaikan masyarakat dapat dilakukan dengan dua cara:
Pertama: Perbaikan secara Dhahir, yang dilakukan di pasar-pasar, di masjid-masjid dan selainnya dari perkara-perkara dzahir. Ini didominasi oleh lelaki, karena merekalah yang biasa tampil di depan umum.
Kedua: Perbaikan masyarakat yang dilakukan dari balik dinding / tembok. Perbaikan seperti ini dilakukan dirumah-rumah dan secara umum hal ini diserahkan kepada kaum wanita. Karena wanita adalah pengatur dalam rumahnya sebagaimana Allah SWT berfirman yang ditujukan ketika itu kepada para istri Nabi SAW: "Tetaplah kalian tinggal dirumah-rumah kalian dan jangan kalian bertabarruj sebagaimana tabarujjnya orang-orang jahiliyyah yang pertama. Tegakkanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah hanyalah berkehendak untuk menghilangkan dosa dari kalian dengan sebersih-bersihnya." (Al-Ahzab:33)
Pekerjaan wanita di dalam Rumah
Beberapa pekerjaan yang bisa dilakukan wanita di dalam rumahnya, seperti:
Pertama: Ibadah kepada Allah.
Allah SWT berfirman:
"Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku." (Adz-dzariyat:56)
Ketika Allah SWT memerintahkan Ummaahtul Mukminin untuk berdiam dirumah mereka, Allah gandengkan perintah tersebut dengan perintah beribadah.
"Dan tetaplah kalian dirumah-rumah kalian dan janganlah bertabarruj seperti tabarrujnya orang-orang jahiliyyah yang terdahulu, tegaklah shalat, tunaikanlah zakat dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya." (Al-Ahzab:33)
Dengan menegakkan ibadah kepada ALlah SWT ini, akan sangat membantu seseorang wanita untuk melaksanakan perannya dalam rumah tangga. Dan dengan ia melaksanakan ibadah disertai kekhusyuan dan ketenangan yang sempurna akan memberi dampak positif kepada orang-orang yang ada di dalam rumahnya, baik itu anak-anaknya ataupun selain mereka.
Kedua: Wanita berperan memberikan ketenangan dan ketenteraman bagi suami dan juga bagi rumahnya.
Allah SWT berfirmn:
"Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan untuk kalian pasangan-pasangan (istri) dari diri-diri kalian agar kalian merasakan ketenangan padanya dan Dia menjadikan di antara kalian mawaddah dan rahman ..." (Ar-Rum:21)
Seorang wanita bisa menjadi ketenangan dan ketentraman bagi rumahnya bila ia menegakkan beberapa hal berikut ini:
1. Taat secara Sempurna kepada suaminya dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah SWT.
Taat ini merupakan asas ketenangan karena suami sebagai qawwam (pemimpin) tidak akan bisa melaksanakan kepemimpinannya tanpa ketaatan. Dan ketaatan kepada suami ini lebih didahulukan daripada melakukan ibdah-ibadah sunnah. Nabi SAW bersabda: "Tidak boleh seorang wanita puasa (sunnah) sementara suaminya ada di tempat kecuali setelah mendapatkan izin suaminya." (HR. Al-Bukhari no.5195 dan Muslim no. 1026)
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah memberikan alasan dalam hal ini: "Sebabnya adalah suami memiliki hak untuk istimta' (bermesraan) dengan si istri sepanjang hari, haknya dalam hal ini wajib untuk segera ditunaikan sehingga jangan sampai hak ini luput ditunaikan karena si istri sedang melakukan ibadah sunnah ataupun ibadah yang wajib namun dapat ditunda." (Syarah Shahih Muslim, 7/115)
Al-hafidz Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan: "Hadist ini menunjukkan bahwa lebih ditekankan kepada istri untuk memnuhi hak suami daripada mengerjakan kebajikan yang hukumnya sunnah, karena hak suami itu wajib sementara menunaikan kewajiban lebih didahulukan daripada menunaikan perkara yang sunnah." (Fathul Bari, 9/356)
2. Mengerjakan pekerjaan rumah yang dibutuhkan dalam kehidupan keluarga seperti memasak, menjaga kebersihan, mencuci dan semisalnya.
Seorang wanita semestinya melakukan tugas-tugas di atas dengan penuh kerelaan dan kelapangan hati dan kesadaran bahwa hal itu merupakan ibadah kepada Allah. Telah lewat teladan dari para sahabat dalam masalah ini. Mungkin kita masih ingat bagaimana kisah Fathimah binti Rasulullah SAW yang menggiling gandum sendiri untuk membuat kue hingga membekaskan kapalan pada kedua tangannya. Ketika akhirnya ia meminta pembantu kepada ayahnya untuk meringankan pekerjaannya maka sang ayah yang mulia memberikan yang lebih baik bagi putri terkasih.
"Maukah aku tunjukkan yang lebih baik bagi kalian berdua daripada seorang pembantu? Bila kalian berdua hendak berbaring di tempat tidur kalian, bertakbirlah 34 kali, bertahmidlah 33 kali bertasbihlah 33 kali. Maka yang demikian itu lebih baik bagi kalian daripada apa yang kalian minta." (HR. Al-Bukhari no. 3113 dan Muslim no. 2727)
Nabi SAW sama sekali tidak mengingkari khidmat yang dilakukan putrinya dengan penuh kepayahan, padahal putrinya adalah wanita yang utama dan mulia. Bahkan beliau mengakui khidmat tersebut dan memberi hiburan kepada putrinya dengan perkara ibadah yang lebih baik daripada seorang pembantu.
3. Menjaga rahasia suami dan kehormatannya sehingga menumbuhkan keoercayaan suami secara penuh terhadapnya.
4. Menjaga harta suami.
Rasulullah SAW bersabda: "Sebaik-baiknya wanita penunggu unta, wanita Quraisy yang baik, adalah yang sangat penyayang terhadap anaknya ketika kecilnya dan sangat menjaga suami dalam apa yang ada di tangannya." (HR. Al-Bukhari no. 5082 dan Muslim no.2527)
Maksud sabda Nabi SAW adalah wanita itu sangat menjaga dan memelihara harta suami dengan berbuat amanah dan tidak boros dalam membelanjakannya. (Fathul Bari, 9/152)
Al-Hafidz Ibnu hajar rahimahullah berkata: "Hadist ini menunjukkan keutamaan sifat kasih sayang (dari seorang ibu), tarbiyah yang baik, mengurusi dan mengaturnya dengan cara yang baik." (Fathul Bari, 9/152)
5. Bergaul dengan suami dengan cara yang baik.
Dengan memaafkan kesalahan suami bila ia bersalah, membuatnya ridha ketika ia marah, menunjukkan rasa cinta kepadanya dan penghargaan, mengucapkan kata-kata yang baik dan wajah yang selalu penuh senyuman. Juga memperhatikan makanan, minuman dan pakaian suami
6. Mengatur waktu sehingga semua pekerjaan tertunaikan pada waktunya, menjaga kebersihan dan keteraturan rumah sehingga selalu tampak rapi hingga menyenangkan pandangan suami dan membuat anak-anak pun betah.
7. Jujur terhadap suami dalam segala sesuatu, khususnya ketika ada sesuatu yang terjadi sementara suami berada di luar rumah. Jauhi sifat dusta karena hal ini akan menghilangkan kepercayan suami.
Ketiga: Mendidik anak-anak (tarbiyatul aulad)
Tugas ini termasuk tugas terpenting seorang wanita didalam rumahnya, karena dengan memperhatikan pendidikan anak-anaknya berarti ia mempersiapkan sebuah generasi yang baik dan diridhai oleh Rabbul Alamin. Dan tanggung jawab ini ia tunaikan bersama-sama dengan suaminya karena setiap mereka adalah mas'ul yang akan ditanya tentang tanggung jawabnya.
Allah SWT berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu." (At-tahrim:6)
Keempat: Mengerjakan pekerjaan pekerjaan lain di dalam rumah bila ada kelapangan waktu dan kesempatan, seperti menjahit pakaian untuk keluarga dan selainnya.
Dengan cara ini ia bisa berhemat untuk keluarganya di samping membantu suami menambah penghasilan keluarga.
Apa yang disebutkan diatas dari tugas seorang wanita merupakan tugas yang berat namun akan bisa ditunaikan dengan baik oleh seorang wanita yang shalihah yang membekali dirinya dengan ilmu agama, ditambah bekal pengetahuan yang diperlukan untuk mendukung tugasnya didalam rumah. Adapun bila wanita itu tidak shalihah, jahil lagi bodoh maka di tangannya akan tersia-siakan tugas yang mulis tersebut. Wallahu ta'ala a'alam.
Buletin Da'wah Hidayah
Edisi 303/15 Jumadil Tsani 1434 H / 26 April 2013