"Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh
yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia."
(QS.Asy-Syu'ara [42]: 43)
Abu Bakar As-Shiddiq radiallahu 'anhu dikenal sebagai sahabat Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam yang sering memberikan sedekah kepada fakir miskin, terutama yang masih ada hubungan kekerabatan dengannya. Satu diantara orang yang biasa dia santuni adalah Misthah bin Utsatsah, anak bibinya yang tergolong miskin.
Sayangnya Misthah kurang berhati-hati menjaga lidahnya. Pada saat beredar fitnah bahwa 'Aisyiah binti Abu Bakar Radhiallahu 'anhu telah berselingkuh, Misthah ikut serta menyebarkan fitnah tersebut. Sehingga ketika turun ayat yang menjelaskan bahwa tuduhan itu merupakan berita bohong, Abu Bakar marah kepada Misthah serta bersumpah tidak akan berbuat baik dan memberi bantuan nafkah lagi kepadanya.
Namun rupanya Allah tidak menyukai sikap Abu Bakar tersebut. Dia kemudian memberikan teguran kepada Abu Bakar dan siapa saja yang bersumpah bahwa dia tidak akan berbuat baik kepada orang lain. Teguran itu disampaikan melalui firman-Nya yang disampaikan kepada Rasulullah, yang artinya:
"Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan diantara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nuur [24]:22)
Melalui ayat tersebut Allah memerintahkan kepada hamba-Nya agar memberikan maaf dan kelonggaran serta tetap memberikan nafkah kepada orang yang biasa dia bantu untuk melanggengkan kebaikan dan silahturahmi.
Setelah Abu Bakar mendengar ayat tersebut beliau berkata, "Benar, demi Allah aku senang bila Allah mengampuni dosa-dosaku dan aku akan memberi nafkah kepada Misthah lagi." Beliau melanjutkan, "Demi Allah, aku tidak akan membiarkannya terlantar sama sekali." (Lihat Al-Qurthubi, Al-Jami' Al-Ahkam, XII, 207 dan Mukhtashar Ibnu Katsir, II, 593).
Ciri Kemuliaan Manusia
Apa yang terbesit di hati kita ketika ada orang yang menzalimi diri kita? Secara naluri kita akan marah dan akan berusaha untuk membalas kezaliman itu dengan berlebihan.
Tentu sikap ini apabila tidak segera dipangkas akan membawa dampak negatif bagi kehidupan manusia itu sendiri, baik bagi kehidupan pribadi maupun kehidupan bermasyarakat. Bagi kehidupan pribadi, seseorang yang memiliki sikap ini akan gelisah hatinya dan terkuras energinya karena memikirkan bagaimana ambisi untuk balas dendam itu terpuaskan. Adapun bagi kehidupan bermasyarakat, sikap ini akan menyebabkan terjadinya konflik yang berkepanjangan hingga memakan korban baik harta maupun jiwa.
Agar kehidupan ini tenang dan tentram, maka sikap yang hanya ingin memperturutkan nafsu dendam harus diganti dengan sikap mulia yang diajaekan Islam yaitu sikap memaafkan. Jika masing-masing pihak atau salah satunya memiliki sikap ini, maka konflik yang terjadi akan reda hingga berakhir tanpa ada benih-benih dendam lagi.
Untuk menjadi pribadi yang pemaaf memang tidak mudah. Apalagi jika luka di hati telah terlanjur menganga. Dalam kondisi seperti ini kadang yang muncul justru perasaan dendam dan berharap kejelekan terhadap orang yang telah melukai fisik dan hati. Sehingga jangankan mendoakan kebaikan, memaafkan kesalahannya saja masih sangat berat.
Keengganan untuk memberi maaf akan menguat manakala kesempatan untuk menuntut balas terhampar luas di hadapan. Ditambah lagi jika status sosial orang yang berbuat salah itu berada jauh di bawah kita. Jika hati tidak dibentengi iman, bisa jadi ambisi nafsu untuk balas dendam akan menjelma menjadi tindakan nyata.
Untuk bisa memaafkan orang yang telah berbuat zalim kepada kita butuh kebesaran jiwa dan kelapangan hati. Jika seseorang mampu memberi maaf meski dia berada pada pihak yang benar dan memiliki status sosial yang lebih tinggi daripada orang yang telah berbuat jahat kepadanya, maka itulah tanda kemuliaan dan ketakwaan dirinya. Satu di antara tanda orang bertakwa adalah tidak berat untuk memaafkan kesalahan orang lain.
Allah Subhanahu Wata'ala berfirman, yang artinya:
"... dan memaafkan (kesalahan) orang. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS. Ali-Imran [3]: 134)
Memang dalam syari'at Islam diperbolehkan untuk menuntut balas terhadap kejahatan yang ditimpakan kepada kita dengan balasan yang serupa. Namun memaafkan merupakan sikap yang jauh lebih baik dan lebih mulia daripada membalas kejahatannya meski dengan balasan yang serupa. Sebagaimana firman-Nya yang berarti:
"Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka Barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang lalim." (QS. Asy-Syura [42]:40)
Sikap mulia inilah yang dicontohkan oleh Abu Bakar As-Shiddiq. Atas petunjuk dari Allah, dia lebih memilih memaafkan anak bibinya dengan tulus daripada membalas kejahatannya meski di berada pada pihak yang benar dan juga mampu untuk melakukan pembalasan karena status sosial jauh lebih tinggi daripada anak bibinya itu. Akhlaq mulia yang dimiliki Abu Bakar ini patut kita teladani dan kita tumbuhsuburkan dalam pribadi kita.
Memaafkan Manusia, Dimaafkan Allah
Sesungguhnya Allah Subhanallahu Wata'ala Sang Pencipta alam semesta ini memiliki sifat-sifat mulia yang patut kita teladani. Dan pemaaf merupakan salah satu sifat yang dimiliki Allah Subhanahu Wata'ala, sebagaimana firman-Nya, yang artinya:
"Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa."
(QS. An-Nisa [4]: 149)
Allah Subhanahu Wata'ala yang memiliki segala kesempurnaan saja bersifat pemaaf. Sehingga tak pantaslah jika manusia yang banyak khilaf dan lupa tak mau menjadi orang pemaaf.
Rasulullah bersabda, "Sedekah tidak mengurangi harta (orang yang bersedekah). Allah tidak menambah kepada seorang hamba karena maaf melainkan kemuliaan dan seorang tidak bertawadhu kepada Allah, melainkan Allah meninggikannya."
Pada hadist yang lain Nabi menjelaskan bahwa mereka yang suka menyambung persaudaraan yang sebelumnya terputus, memberi kepada orang yang tak suka memberi, serta berjiwa pemaaf merupakan akhlaq penghun dunia dan akhirat yang paling utama.
Dari Uqbah bin Amir, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Wahai Uqbah, bagaimana jika aku beritahukan kepadamu tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Hendaklah engkau menyambung persaudaraan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu, hendaklah engkau memberi kepada orang yang tidak memberimu, dan memaafkanlah orang yang telah menzalimimu." (Diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Baghawi).
Semoga Allah mengaruniai kita sifat pemaaf, suka memberi dan suka menyambung persaudaraan. Wallahu a'alamu bish-shawab.
Penulis: Masrokah (Pengasuh Pondok Pesantren)
Editor : Abu Azka
Buletin Hanif
Edisi 22 Maret 2013