Bismillah.
Saudaraku yang
dirahmati Allah Ta’ala, dalam kehidupan sehari-hari, tentu kita tidak pernah
lepas dari yang namanya melakukan dosa sebagaimana sabda Rasulullah, “Setiap manusia pasti melakukan dosa, dan
sebaik-baik orang yang melakukan dosa adalah orang yang bertaubat.” (HR.
Tirmidzi dan Ibnu Majah). Akan tetapi Rasulullah memberikan kabar gembira bagi
siapa saja dari umatnya yang ingin bertaubat dari dosa dengan sebutan
“sebaik-baik orang yang melakukan dosa”. Oleh karena itu, manusia yang terbaik
adalah manusia yang banyak bertaubat dari dosa-dosanya.
Pembagian
Dosa
Menurut para
ulama, dosa dibagi menjadi dua, yaitu dosa besar dan dosa kecil. Adapun
pengertian dosa besar ialah setiap dosa yang menghancurkan adalanya had
(hukuman) di dunia, atau yang diancam oleh Allah dengan neraka, laknat, atu
murka-Nya. Dari kedua pembagian dosa di atas, kita akan memfokuskan pembahasan
pada dosa-dosa besar.
Contoh-contoh
Dosa Besar
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Jauhilah
oleh kalian tujuh dosa yang membinasakan”. Para sahabat bertanya, “Apa itu?”.
Beliau menjawab, “Menyekutukan Allah, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah
kecuali dengan benar, memakan harta anak yatim, memakan riba, melarikan diri
dari peperangan, menuduh berzina wanita-wanita mukminah yang suci.” (HR.
Bukhari dan Muslim).
[1]
Syirik
Para pembaca
yang semoga dirahmati Allah, tentu banyak dari kita sudah sering mendengar
perkara ini, bahkan mungkin sudah bosan mendengarnya. Memang sudah sangat
sering kita mendengarkan permasalahan syirik, namun banyak dari kita yang masih
saja terjerumus kedalamnya secara sadar atau tidak sadar. Padahal Allah telah
berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya
Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Ia mengampuni dosa yang levelnya di
bawah syirik bagi siapa yang Ia kehendaki” (QS. An Nisaa: 48). Bahkan
didalam ayat lain, Allah mengancam pelaku kesyirikan dengan neraka, sebagaimana
firman Allah (yang artinya), “Barangsiapa
yang menyekutukan Allah, sungguh Allah telah mengharamkan baginya surga dan
tempat kembalinya adalah neraka.” (QS. Al Maaidah: 72). Allah dengan tegas
menyatakan bahwa perkara kesyirikan merupakan sebuah perkara yang dapat
menyeret pelakunya ke dalam neraka. Maka apakah kita tidak lagi tertarik untuk
mempelajari perkara ini?
[2]
Sihir
Sihir banyak sekali macamnya. Mulai dari jengges, pelet,
santet, dan masih banyak lagi. Ternyata praktek ini juga sudah ada sejak zaman
dahulu. Sebagaimana yang Allah ceritakan tentang peperangan Nabi Musa dengan
para penyihir fir’aun di dalam surat Thaha yang berakhir dengan penyaliban para
penyihir tersebut oleh fir’aun karena keimanan mereka. Akan tetapi ada yang
berbeda dari praktek sihir yang ada di zaman sekarang. Kami telah melihat
beberapa waktu lalu, ada seorang dukun yang mengaku-ngaku sebagai seorang
ustadz dan ia memberikan pengobatan kepada pasiennya melalui sihir. Maka
hati-hatilah wahai saudaraku sekalian!
[3]
Membenuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan benar
Dewasa ini, sangat mudah sekali kita menjumpai pembunuhan
dengan beragam motifnya. Bahkan, hanya gara-gara rebutan lahan parkir, sebagian
dari kita saling membunuh. Na’udzubillah. Sudah lupakah kita dengan firman
Allah Ta’ala (yang artinya), “Barangsiapa
yang membunuh seorang mu’min secara sengaja, maka balasannya ialah neraka
jahannam yang ia kekal didalamnya, Allah murka kepadanya dan melaknatnya. Lalu
Ia akan menyiapkan siksaan yang besar.” (QS. An Nisaa: 93).
[4]
Memakan harta anak yatim
Allah Ta’ala
berfirman (yang artinya), “Barangsiapa
yang memakan harta anak yatim secara zhalim, maka sesungguhnya mereka telah
memasukkan api ke dalam perutnya, dan mereka akan masuk ke dalam api yang
menyala-nyala.” (QS. An Nisaa: 10). Apabila kita telah diberi amanah oleh
seseorang untuk mengelola dana untuk keperluan anak yatim, maka janganlah
sekali-kali kita berani memakannya dengan cara yang zhalim karena Allah telah
mengancam orang-orang yang melakukan hal tersebut dengan neraka yang
menyala-nyala.
[5]
Memakan riba
Riba merupakan
sebuah duri yang banyak menusia tertusuk olenya. Akan tetapi anehnya, mereka
merasa manis dengan tusukan-tusukannya. Bunga yang ditawarkan oleh bank-bank
konvesional merupakan daya tarik tersendiri bagi orang yang tidak tahu. Namun
sejatinya kita harus mengetahui bahwasannya riba merupakan sebab peperangan
yang Allah umumkan kepada hamba-Nya, sebagaimana firman-Nya (yang artinya), “Maka jika mereka tidak mengerjakannya
(meninggalkan riba), maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan
memerangimu.” (QS. Al Baqarah: 279). Apabila Allah telah mengumumkan
peperangan kepada seorang hamba, maka apalagi yang bisa ia lakukan?
[6]
Melarikan diri dari peperangan
Seungguh pembaca
yang budiman, sikap diatas merupakan sikap yang dibenci oleh Allah. Allah
mengancam dengan firman-Nya (yang artinya), “Barangsiapa
yang membelakangi mereka (mundur) diwaktu itu, kecuali berbelok untuk siasat
perang atau hendak bergabung dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang
itu kembali dengan kemurkaan Allah, dan tempat kembalinya ialah neraka
jahannam, dan umat buruklah tempat kembalinya.” (QS. Al Anfal: 16).
[7]
Menuduh wanita mukminah yang suci telah berzina
Allah berfirman
(yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang
yang menuduh wanita baik-baik yang lemah dan beriman berbuat zina, maka mereka
dilaknat di dunia dan di akhirat dan bagi mereka siksaan yang besar.” (QS.
An Nur: 23). Maka siapapun orang yang menuduh wanita mukminah telah melakukan
perzinaan tanpa bisa mendatangkan empat orang saksi, sungguh dia akan masuk ke
dalam ancaman Allah pada ayat di atas apabila ia tidak bertaubat.
Jauhilah
ia maka engkau akan masuk surga
Allah Ta’ala
berfirman (yang artinya), “Jika kamu
menjauhi dosa-dosa besar diantara dosa-dosa yang kamu dilarang mengerjakannya,
biscaya akan kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan kami masukkan engkau ke
tempat yang mulia (surga).” (QS. An Nisaa: 31). Demi meraih tempat mulia
yang telah dijanjikan oleh Allah be rupa surga, maka
hendaklah kita bersemangat untuk meninggal dosa-dosa tersebut.
Penulis : Seno
Aji Imanullah
(Santri Ma’had
Al’Ilmi Yogyakarta)
Muroja’ah: Ustadz Abu Salam
Buletin
At-Tauhid
Edisi 23 / Tahun
9